Cerpen Rasi





Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 5 May 2022

“Keren banget ka punya mata warna ungu”
Suara anak kecil sembari menunjuk seorang wanita yang berdiri mengantri untuk barang belanjaanya. Mengetahui itu wanita yang bernama Rasi sadar bahwa sebelum keluar tadi dirinya lupa memakai lensa kontaknya yang berwarna hitam.
“Ah… ini, iya makasih ya”
Lalu Rasi pamit dan segera pamit dari sana.

Sebagai salah satu manusia yang diberikan kelebihan oleh tuhan tentu saja akan selalu terlihat berbeda dengan manusia lainnya. Terkadang terlihat dari fisiknya dan terkadang terlihat juga dari perilakunya dan Rasi adalah salah satu dari mereka yang memiliki di fisiknya karena memiliki bola mata yang berwarna ungu ametys sudah dimilikinya sejak lahir.

Sepanjang hidupnya memiliki warna mata seperti itu pasti akan mendapatkan perlakuan berbeda ada yang menerimanya dengan baik dan ada juga yang menerimanya dengan buruk. Karena itu Rasi mencoba menyembunyikannya dengan menggunakan kontak lensa. Karena warna mata ini membuat Rasi kehilangan kedua orangtuanya karena peristiwa yang mengerikan membuat Rasi tentu saja trauma dan pergi sendiri ke negara lain.

“Kau bisa bantu”
“Bisa sebentar ya”
Rasi menaruh barang belanjaanya lalu dengan segera membantu temannya melayani beberapa pelanggan di kafe mereka.

Sejak tiba di indonesia dan tinggal bersama temannya Cana yang sudah tahu kondisi Rasi yang berbeda. Sebenarnya Cana sendiri adalah salah satu orang yang percaya dengan sesuatu yang tidak biasa di dunia ini. Cana sendiri percaya di kota tempatnya tinggal adalah salah satu kota yang memiliki kekuatan tidak biasa karena itulah Cana membujuk Rasi untuk tinggal bersamanya. Setidaknya itu sekilas tentang Rasi dan Cana.
Malamnya Rasi mematikan cahaya ungu yang ia buat lalu Rasi berjalan keluar untuk melihat bintang kembali ke kamar lalu tertidur.

Seminggu kemudian Cana dengan intuisi kuat merasakan kehadiran seseorang yang tidak biasa benar saja orang itu memasuki kafenya lalu terduduk. Orang itu adalah seorang pria yang seumuran dengan mereka berpakaian pakaian yang tidak biasa membuat setiap mata menatapnya dengan tatapan tidak biasa mengingat pria itu menggunakan jaket panjang di cuaca yang panas.

“Baru pertama kali disini” Tanya Cana
“Tidak, hanya baru pulang”
“Sepertinya ada urusan yang penting”
“Tidak juga”
Lalu Cana pergi menyiapkan pesanan pria itu sedangkan Rasi saat ini sedang pergi mengantarkan pesanan orang. Cana kembali lalu duduk di depan pria itu

“Benar-benar tidak ada urusan penting? Karna aku merasa aneh”
Pria itu terdiam, perlahan matanya yang hitam menjadi warna hijau zamrud. “Kau tahu”
Cana mengangguk. “Jangan ganggu dia, dia tidak ada urusan denganmu”
“Nyatanya aku ada urusan dengannya”
“Katakan, lalu kau boleh menemuinya”
Pria itu setuju lalu mengatakan tujuannya Cana mendengarnya sembari berpikir jika urusan Pria itu benar atau tidak.

Setelah mendengarkan urusan Pria itu tidaklah terlalu buruk namun susah mengingat Rasi yang tidak ingin diganggu. “Aku usahakan”
“Terima kasih, omong-omong namaku Pero”
“Cana”

Keesokan harinya kafe tutup. Saat Rasi sedang duduk di salah satu bangku yang menghadap kearah jendela, sedangkan Cana berada di dapur. Saat Rasi memandang jendela dirinya melihat Pria yang sedang berjalan ke kafe itu.
“Maaf hari ini kami libur”
“Iya aku tahu, tujuanku disini untuk menemuimu”
“Maaf aku tidak mau”
Terlihat Cana berjalan kearah mereka. “Halo Pero, Rasi ini Pero dia ingin berbicara denganmu”

Dan disinilah saat ini mereka bertiga duduk sembari menikmati makanan yang baru saja dimasak oleh Cana. Rasi dan Pero sudah berkenalan. Pero sendiri sudah mengatakan tujuannya datang kemari membuat Rasi bingung harus apa, namun perlahan Rasi menjadi lebih tahu.

Baca Juga :  Cerpen Lilis dan Iyan (Bagian 1)

Malamnya Pero menginap di kafe mereka sedangkan di lantai atas Rasi dan Cana sedang tertidur di kamar mereka sendiri. Saat itu hari sedang hujan dengan deras terdengar beberapa kali suara petir yang sedang menyambar hingga suara petir yang paling besar membuat Rasi terbangun dari tidurnya lalu berjalan ke bawah untuk memeriksa sekitar disana terlihat Pero yang masih tertidur.

Di dapur Rasi meminum segelas air lalu memandang kearah jendela. Disana terlihat berkali-kali kilatan yang berwarna putih diiringi suara petir membuat Rasi takjub namun takut bersamaan terlihat jelas setelah kilatan itu pergi Rasi melihat sesuatu bergerak berjalan kearahnya. Selama kilatan berlangsung Rasi semakin jelas dari tidurnya dapat melihat sosok yang bergerak itu semakin dekat hingga di depan jendelanya. Melihat sosok yang tidak pernah ia lihat seumur hidup membuat Rasi berteriak sedangkan makhluk tadi memecahkan jendela sembari berusaha masuk. Segera Rasi berlari membangunkan Pero namun saat hampir mencapai Pero Rasi terjatuh karena kakinya tertahan oleh sosok itu.

Rasi berusaha melepaskan diri dari makhluk itu. Rasi merasakan tangannya panas lalu mengarahkan tangannya kearah sosok itu dengan jelas terlihat angin berwarna ungu menjauhkan sosok itu dari Rasi dan membiarkan Rasi terbebas dari sosok itu.
“Menunduklah!!”
Rasi menurut lalu menunduk. Membiarkan Pero melukai makhluk itu hingga beberapa saat makhluk itu sudah tidak bergerak lagi.

“Terima kasih”
“Ya”
“Makhluk apa itu”
“Itu adalah salah satu makhluk miliknya” Pero memerhatikan jendela dimana kilatan yang masih menyambar di laut dan suara petir yang masih terdengar. “Sekarang dia tahu”
“Maksudnya”
“Bahwa kau disini di bumi”
“Nanti kuceritakan, sekarang tidur. Tapi besok kita harus pergi”

Keesokan harinya seperti yang Pero katakan mereka bertiga pergi. Cana sedikit sedih harus meninggalkan kafenya disisi lain setidaknya dirinya tahu bahwa kafe itu berada di tangan yang aman. Saat ini mereka bertiga tiba di depan batu. Lalu dengan jelas Cana dan Rasi melihat Pero meraih tangannya membuat matanya mengeluarkan cahaya hijau lalu batu tersebut membelah hingga terlihat jelas ada sebuah lubang lebih tepatnya portal. Pero mengajak Cana dan Rasi masuk. Portal tersebut membuat mereka tiba di sebuah tempat yang belum pernah Cana dan Rasi lihat disana mereka melihat banyak manusia namun mata mereka memiliki warna yang tidak dimiliki oleh manusia manapun di bumi.

“Ini dunia lain?” Tanya Rasi iseng
“Seperti itu, tapi ini lebih dikenal dengan Ristal”
“Ristal Kristal”
“Kalian bisa menyebutnya begitu. Mengingat memang disini Kristal adalah kekutan kami”
“Aku baru sadar apa disini semua orang mengerti Bahasa kita”
“Tentu saja, kami diberikan kelebihan untuk mengerti Bahasa semua makhluk”
“Bagaimana dengan perasaan”
“Tidak”

Mereka tetap berjalan hingga Pero menghentikan salah satu kereta lalu Mereka bertiga menaiki kereta tersebut yang membawa mereka ke sebuah tempat yang besar dimana ada banyak orang yang sedang menjaga tempat itu. Kereta tersebut berhenti lalu mereka bertiga turun. Tampaknya Pero dan orang-orang disana akrab karena setiap Pero berjalan orang-orang disana akan menyapanya. Namun terlepas dari itu orang-orang juga menatap Cana terutama Rasi secara tidak biasa.

Tiba di sebuah ruangan Pero mengatakan kepada Cana dan Rasi untuk menunggu sedangkan Pero masuk. Tidak berselang lama kemudian pintu terbuka dengan sendirinya sedangkan di dalam terdengar suara Pero yang menyuruh mereka berdua untuk masuk. Di dalam Cana dan Rasi dapat melihat ruangan itu besar dan disana ada dua orang lain yang asing.

“Mata ungu”
Rasi hanya terdiam. Dua orang tersebut kembar lalu salah satu dari mereka dapat berjalan dengan cepat membuat Rasi terkejut saat dia berjalan mendekat lalu menatap matanya.
“Dia memang sang ametys” Rasi hanya bisa terdiam lalu menatap Cana yang juga bingung namun penasaran. “Tyhis”
“Ayahku”
“Dimana dia?”
“Dia sudah…”
“Maaf.. Kami tidak tahu. Tapi percayalah sekarang kau aman disini”

Baca Juga :  Cerita Pendek Bunga Kematian

Malam atau bukan?. Yang jelas langit disana gelap. Rasi dan Cana tinggal di sebuah Rumah kecil yang disediakan. Cana sudah tidur sedangkan Rasi sedang memandang Jendela merenung.
“Sedang apa disini”
“Ikut saja”
“Hah!!”
Dengan sekali kilas. Rasi berada di tempat lain, di depannya terdapat sebuah danau yang bercahaya, saat Rasi mendekati untuk melihat dengan jelas terlihat bahwa di dalam danau terdapat banyak kristal kecil yang bercahaya.

“Ini dimana?”
“Tempatmu MATI!!!”
Dengan mata yang jelas semua berubah menjadi air yang hampir membuat Rasi tenggelam, namun lagi-lagi tangannya mampu mengeluarkan angin berwarna ungu menyelamatkannya.

“Rasi bangun!!”
Rasi tersadar tadi itu hanya mimpinya saat ini dirinya terbangun. Saat hari itu Cana yang tertarik dengan sajian di Ristal. Sedangkan Rasi dan Pero sedang berjalan-jalan. Setidaknya sekarang sudah hampir sebulan sejak Cana dan Rasi disana. Dan Rasi masih belum tahu apa yang harus dia lakukan disini selain mengetahui sejarah tempat ini beserta penghuninya.

“Apa boleh suatu saat aku kembali ke bumi”
“Sangat boleh. Kau ingin kembali sekarang”
“Iya, aku sangat yakin juga Cana merindukan kafenya” Sahut Rasi sembari tertawa kecil.
“Maukah kembali saat kami memerlukanmu”
“Tentu saja, aku akan senang membantu”

Saat mereka tetap berjalan, di pantai yang sempit itu terlihat sebuah kilatan lalu dari kilatan itu muncul air yang mulai membentuk sosok. Rasi yang sedang berjalan merasakan ada air di kakinya yang membuatnya tertahan lalu ketarik kearah belakang, rasi yang terkejut berteriak sedangkan pero berusaha meraih rasi sembari melawan sosok makhluk yang besar berada dibelakang Rasi sembari terus menarik Rasi.

“Sudah lama tidak menjumpai ametys” Suara sosok yang besar.
Rasi yang lelah, mencoba melawan dengan mengeluarkan angin ungu seperi yang pernah ia lakukan. Dan kemudian berhasil Rasi terlepas dari sosok itu sembari melihat Pero yang masih melawan makhluk itu, dengan ukuran yang sebesar itu Rasi berusaha melawannya.
Selang beberapa saat, makluk tersebut sudah tidak bergerak dan berubah menjadi batu biasa. Rasi mendekatinya sedangkan Pero melakukan sesuatu terhadap batu itu.

Keesokan harinya Rasi bersiap-siap untuk pulang ke Bumi. Setidaknya setelah makhluk itu tiba sekarang Ristal sudah dapat membuat perlindungan dengan menggunakan angin ungu yang Rasi berikan lalu orang-orang Ristal satukan dengan alat kincir membiarkan angin ungu terus berjalan di langit-langit mereka. Rasi dan Cana diantar Pero ke sebuah danau yang pernah Rasi lihat seperti di mimpinya. Pero mengatakan danau itu adalah sebuah portal untuk orang yang mampu menggunakannya seperti Pero. Dengan matanya yang kembali berwarna hiijau pero mampu mengubah danau tersebut menjadi sebuah portal.

“Tunggu sebentar” Ajak Pero yang membuat Rasi terdiam
Terlihat Pero berjalan maju kearah Rasi, kemudian meraih tangan kanannya Rasi sembari memasangkannya cincin batu berwarna hijau, Rasi hanya terdiam sembari takjub melihat cincin itu. “Ini bagus”
“Tentu saja bagus, pilihanku selalu bagus”
Rasi tertawa. “Kita lihat saja”
“Dengan cincin ini kamu bisa kembali lagi kesini” Kata Pero lalu melepaskan tangannya. “Terima kasih sudah membantu kami, setidaknya dengan angin ungu itu kami bisa bertahan”
“Jika ada apa-apa. Kau tahu kan keberadaanku” Pero mengangguk
“Sampai jumpa lagi”
“Sampai jumpa”

Rasi pergi lalu berjalan kearah Cana dengan segera mereka berdua memasuki portal itu. Di dalam portal itu adalah sebuah air yang membuat semuanya basah dengan segera portal itu membawa mereka di laut. Saat tiba di permukaan laut Rasi dan Cana berenang ke pantai lalu tertidur di pasir pantai. Cana dapat melihat mereka tiba di pantai dekat dengan kafenya sedangkan Rasi memandang cincin yang masih terpasang di jarinya.

Baca Juga :  Cerpen Berkah Peduli

“Dasar kenapa kali ini portalnya merepotkan sih”
Rasi tertawa mendengarnya. “Setidaknya kita bisa pulang”
“Benar, aku kangen sekali dengan kafeku kau tahu”
“Aku juga, terutamanya tempat tidurnya”
Cana tertawa mendengarnya. “Dasar, tapi Si kamu akan kembali kesana?”
Rasi terdiam. “Iya nampaknya aku sudah rindu dengan tempat itu”
“Maksudmu rindu dengan Pero bukan”
Rasi menepisnya, namun kini hatinya berdegup kencang. “Hei dia itu bukan manusia kau tahu”
“Tapi kau juga bukan” Kata Cana. “Maksudku kalian sama sebagai manusia campuran”
“Aku tidak mengerti”
“Sudahlah, ayo kembali ke kafe aku sudah kangen” Kata Cana sembari berdiri lalu Rasi mengikutinya.
“Na nanti masakin mie ya aku kangen masakan disini tapi”
Cana tertawa. “Iya ya, ternyata bumi lebih enak bukan”
“Iya bumi adalah rumah yang terbaik”

Setelah semua yang terjadi Rasi belajar banyak hal. Disaat Ristal membutuhkan bantuan Rasi akan selalu datang untuk mereka selain itu kedatangan Rasi di Ristal juga untuk bertemu dengan Pero sebagai seorang teman hingga teman hidup. Kini setelah puluhan tahun berlalu Putri dari Rasi dan Pero yang memiliki mata ungu dengan cahaya hijau menjaga Ristal seperti kedua orangtuanya dulu. Hingga sekarang Angin ungu milik Rasi masih menghiasi langit Ristal sedangkan pemilik angin ungu itu sudah tertidur untuk selamanya bersama teman hidupnya.

30/04/2022

Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Blog / Facebook: lovinpluie

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 5 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Rasi merupakan cerita pendek karangan Shofa Nur Annisa Deas, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Mr. I

Hujan rintik rintik turun beberapa saat setelah Jenazah Kakakku dimasukkan ke dalam ruang peristirahatannya yang terakhir. Isak tangis yang masih terlihat di beberapa sanak saudaraku termasuk orangtuaku belum terhenti.




Oleh: Fendy Ahmad Thahir

Tak berhenti hatiku terus mengagumi kecantikan gadis yang ada di sampingku sekarang. matanya bening penuh dengan ketulusan, tatapannya fokus penuh dengan keikhlasan, wajahnya yang putih mulus membuatku ingin bersujud




Oleh: Riva Fitrya

Namaku rista. Aku punya sahabat bernama rtia (baca: retia). Kami satu les, sekolah dan kelas. Kami juga sebangku. Pagi itu, gheni sedang gosipin rtia. Biasa… Gheni tu emang si




Oleh: Khafid Syaifudin

Sekarang aku berada di sebuah ruangan yang menurutku itu sangat tidak sopan untuk diceritakan, yah… sebelumnya perkenalkan namaku adalah Alvin aku berada di kelas 9A sekarang untuk tempat yang




Oleh: Ita Fauzia

Hari menjelang senja. Matahari telah menggelinding pelan ke ujung cakrawala. Aku berjalan pelan memunggungi matahari. Langkahku mulai gontai, usahaku hari ini sia-sia, Tom telah pergi. Tidak ada seorang pun





“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan komentar