Cerpen Kurungan Lara





Cerpen Karangan: Yoo_Nana
Kategori: Cerpen Kehidupan

Lolos moderasi pada: 22 May 2022

Aku bukanlah orang yang terlahir dengan kehidupan mapan.
Aku juga bukanlah orang yang ditakdirkan menempuh jalan lurus tanpa ada hambatan.
Dan aku juga bukanlah orang beruntung yang layak mendapatkan sejuta kasih sayang dari orang-orang tersayang.

Aku hanyalah aku.
Seorang gadis kecil yang menempuh kerasnya kehidupan. Atau mungkin, lebih tepat jika dikatakan sebagai gadis dengan impian setinggi langit, namun dijatuhkan ke kubangan oleh orang-orang yang aku percayai. Sampai akhirnya, karena terlalu banyak mendengar apa yang mereka ucapkan, aku hanya bisa menurut dan semakin terjerembab ke lubang sengsara.

Orangtuaku bukanlah orang yang berpunya. Ayahku hanyalah seorang tukang pandai besi di pinggiran kota, sementara ibuku bekerja sambilan sebagai seorang penjahit selagi mengasuh kesembilan orang anaknya.

Sebagai anak ke empat di keluarga, aku terhitung kurang diberi kasih sayang sebagaimana kakak dan adikku. Sudah cukup lama aku mencari cara agar ibu sekali saja menatap ke arahku dengan memasang gelagat lucu, ataupun melakukan hal yang membuatnya marah.

Aku tetaplah gadis kecil yang mendambakan curahan kasih sayang ayah dan ibu. Aku juga tetaplah anak yang mencoba untuk ‘terlihat baik-baik saja’ meski ribuan kali terjatuh dan menyimpan sakit untuk diriku sendiri.

Masalahnya adalah sekeras apapun aku berusaha, sekeras apapun aku mencoba untuk menjadi seseorang yang ‘benar-benar terlihat’ di mata mereka semua, tetap tak ada yang peduli. Mau aku mencoba berperan sebagai bocah nakal yang rewel ataupun sebagai gadis sopan yang penurut, rasanya sama saja.

Pada dasarnya mereka yang dari awal tidak peduli, selamanya tak akan peduli. Meskipun sekuat tenaga mengarahkan arah pandang mereka agar tertuju pada diriku, jika mereka menyaksikan cahaya yang lebih terang dari aku, niscaya mereka meninggalkan aku.

Maka dari itu, sejak aku menginjak usia remaja aku perlahan mulai berhenti untuk berharap. Mau sekencang apapun aku melantangkan suara, mungkin mereka hanya akan peduli sejenak lalu meninggalkanku bila di rasa aku akan membaik dengan sendirinya.

Nyatanya, aku tidak pernah dalam kondisi baik-baik saja selama rumpang ini tak kunjung diperbaiki dengan tekun.

Aku benci mengatakan bila aku masih mengharapkan seseorang datang untuk menawarkan tangannya padaku.

Hari ini adalah hari ketiga aku bekerja sebagai perawat di rumah sakit jiwa yang terletak di sebuah wilayah terpencil. Jauh sekali dari jarak tempuh ke arah pusat kota.

Baca Juga :  Cerpen Orang Asing (Bagian 2)

“Dian, tolong dong cek pasien di kamar 207.”, titah Alpha, salah satu rekan kerja yang akrab sejak hari pertama aku bekerja
“Siap mbak.”. Aku lantas melayangkan senyuman termanis yang aku miliki.

Untuk sekarang ini, aku merasa aku akan baik-baik saja. Toh setelah bertahun-tahun berlalu, Ayah dan Ibu sudah semakin jarang menggubris kelakuanku. Mereka sudah terlihat bahagia dengan anaknya, menantu dan cucunya lain meski tanpa kehadiranku. Kurasa keputusanku sudah tepat untuk mengambil pekerjaan yang jauh dari rumah.

Orang-orang disini bahkan terlihat jauh lebih ramah dibandingkan apa yang mereka sebut sebagai ‘rumah’. Tak ada yang namanya membanding-bandingkan anak satu dengan yang lainnya. Tak ada juga yang akan memukulku jika aku mendapatkan nilai merah. Disini semuanya setara, ego mereka luntur seiring berjalannya waktu. Maka tidak ada yang namanya dibedakan berdasarkan rupa, pekerjaan, prestasi dan semacamnya.
Semuanya setara, dengan hati yang remuk dan akal yang ingin rehat untuk sementara waktu.

Aku senang.
Cukup senang untuk mengatakan bahwa aku bisa bernapas lega, ditempat yang mana kebanyakan orang menganggapnya sebagai ‘tempat terkutuk’ maupun ‘tempat yang tabu’ untuk didatangi.

Aku lantas mengetuk pintu beberapa kali sebelum masuk ke kamar unit 207 yang dititahkan Alpha. Mendengar tak ada jawaban, aku masuk dengan langkah kecil. Aku takut mengganggu bila pasiennya sedang beristirahat.

“Permisi.”, panggilku lirih. Pria yang terlihat berusia kepala dua itu lantas menoleh. Ia mengangguk sebagai bentuk sopan santun padaku, kemudian kembali menatap ke arah luar jendela dengan tatapan kosong.
“Maaf, tadi saya tidak dengar.”, ujarnya. Aku meresponnya dengan anggukan kecil.
“Revan Andhika Putra?”, tanyaku untuk memastikan data yang diberikan.
“Iya.”, jawabnya.

Aku terdiam sejenak untuk memperhatikan raut wajah pria itu. Sepertinya aku tidak pernah melihatnya bergaul dengan pasien lain atau sekedar keluar untuk jalan-jalan. Rasanya aneh.

“Anda perawat baru?”
“Iya, saya baru pindah kemarin.”, jawabku sekenanya.

Aku kemudian segera melakukan pemeriksaan rutin kepadanya. Aku tidak banyak tahu tentang pria ini karena masih baru. Akan tetapi, dari fisiknya ia terlihat begitu sehat dan bugar. Aku jadi bingung sendiri dibuatnya.

“Dilihat dari data, anda jarang mengonsumsi makan malam. Kenapa? Apa anda punya keluhan? Makanannya tidak enak?”, tanyaku memastikan.
“Tidak, makanannya enak.”, jawabnya dengan raut masam.
“Lalu?”
“Aku tidak pernah mendapatkan makan malam saat di rumah. Aku tidak terbiasa makan malam.”. Ia memalingkan wajahnya gelisah. Aku mulai berpikir jika aku sudah salah bicara.

Baca Juga :  Cerpen Broken Heart

Luka sayatan di tangannya terlihat begitu banyak. Kantung matanya terlihat begitu jelas, entah sudah berapa lama ia tidak tidur dengan baik. Dilihat dari keresahan yang terpancar di matanya, aku tahu sekali jika aku telah memicu hal yang seharusnya tidak boleh aku tanyakan.

“Apa anda ingin jalan-jalan sebentar? Pasti akan menyenangkan ketimbang di kamar seharian.”, ujarku dengan penuh semangat. Sayang sekali, pria itu malah menolak permintaanku mentah-mentah dan mengatakan bahwa ia tidak suka dipaksa oleh orang sepertiku.

Aku bahkan tak tahu aku punya salah apa pada dirinya.

“Kau, aku benci orang yang menyembunyikan luka sepertimu.”. Ia berujar dengan tiba-tiba selagi aku membersihkan kamarnya yang berantakan.
“S-saya?”, tanyaku seraya menuding diriku sendiri.
“Aku tidak bodoh, aku tahu benar senyummu palsu. Meskipun kau berpikir perkataanku tidak masuk akal sekalipun.”, sarkasnya dengan senyuman meremehkan. Sejenak aku terpaku, jadi sepertinya dia tahu benar cara melakukan hal yang sama sebelumnya.

“Ceritakan lebih banyak.”. Aku mengambil tempat duduk di sampingnya, mulai mendengarkan ia bercerita mengenai segelintir kisah hidupnya dan berbagai macam manusia yang ia temui. Entahlah, aku larut sendiri dalam pikiranku. Mungkin untuk pertama kalinya aku memiliki orang yang bisa diajak bicara untuk masalah seperti ini.
Tak ada sekalipun aku menyela ceritanya. Aku hanya terus mendengarkan, sesekali meresapi apa yang pemuda itu katakan dengan wajah sendunya itu.

“Bukankah lebih baik seperti ini?”. Ia bertanya padaku secara tiba-tiba.
“Maksudnya?”
“Aku lebih memilih untuk mengurung diriku dalam jeruji lara daripada membuat kesalahan dan membuat banyak orang lain, termasuk diriku terluka.”. Ia mengulum senyum manisnya.

“Tahu sesuatu? Meski diluar sana banyak yang mengatakan bahwa aku terlalu berlebihan, terlalu mudah bersedih, terlalu mudah stress hingga membahayakan diri. Untuk pertama kalinya aku merasa senang memiliki orang yang mengerti betapa sakitnya menyimpan luka. Andai, bila aku bisa menjadi orang lain dan dapat memilih hidup bahagia, memang siapa yang tak mau? Meskipun sekarang mereka memanggilku gila, aku cukup waras untuk memilih takdir jikalau bisa. Konyol, bersikap tidak perduli juga ada batasnya. Aturan untuk mencibir orangpun dikenakan batas yang berlaku.”. Ia terkekeh geli. Aku tak sengaja ikut terbawa dan ikut tertawa berbarengan dengannya.

“Kau tahu yang lebih konyol?”. Aku pada akhirnya turut angkat bicara.
“Apa?”
“Kau dan aku, berkumpul lalu bercerita di sini. Lucunya nasib kita sama, hanya saja peran kita yang berbeda. Tempatnya pun rumah sakit jiwa. Kita sama-sama tertawa akan kehendak takdir. Lalu sebenarnya siapa yang pantas disebut pasien di sini?”

Baca Juga :  Cinta Lurus Pendek

Selesai …

Cerpen Karangan: Yoo_Nana
Insta: namberue14

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 22 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Kurungan Lara merupakan cerita pendek karangan Yoo_Nana, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Riska Yupitasari

“Febi, ini keripiknya sudah siap.” Terdengar suara Ibu memanggilku. Aku pun datang menghampirinya di dapur untuk mengambil keripik yang sudah tersusun rapi di keranjang. “Iya, bu. Ya sudah, aku




Oleh: F. S. Yugita

Aku datang pada malam dingin yang terhanyut dalam sunyi. Kurebahkan diri di atas tumpukan kapas kotor penuh debu yang melontarkanku pada kebengisan hidup. Diriku terbuai, terbesit kala sinar-sinar muncul




Oleh: Puspita Sandra Dewi

Indonesia adalah negara sedang berkembang, dimana masih banyak terdapat kekayaan alam yang belum dapat diungkap keberadaannya. Juga kota-kota besar yang katanya di sana berkumpul semua orang-orang berjas dan berdasi,




Oleh: M. Falih Winardi

Ah, nikmatnya menyeruput kopi susu hangat dari tatakan cangkir. Ketimbang harus meminumnya langsung meski ditiup terlebih dahulu ataupun menggunakan sendok. Saburi berhasil melakukan itu. Dia sudah merasa seperti bapak-bapak.




Oleh: Andrawira Diwiyoga

Sore hari, hujan jatuh dengan derasnya di kota ini. Ada yang berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat maghrib dengan membawa payung, ada yang pulang sambil mendorong gerobak kosong, dan





“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan komentar