Cerita Pendek di Hari Raya Pandemi

Cerpen oleh: Cindy Cantika Triana
Kategori: Cerpen Covid 19 (Corona), Cerpen Ramadhan, Cerpen Sedih
Moderasi lulus pada: 29 Maret 2022

Setelah virus Covid-19 berhasil mengguncang dunia. Tidak ada lagi keramaian sejauh mata memandang. Semua orang menjaga jarak. Takut saja tertular virus yang cukup menakutkan. Tak terkecuali di Masjid Jami’ Baitul Izza.

Masjid hijau terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang mengikuti jemaah di sana. Padahal, ini adalah Ramadhan terakhir sebelum menyambut hari kemenangan esok. Tak ada lagi suara petasan yang biasa dimainkan anak-anak desa.

Lantunan kalimat takbir terdengar miris, sedikit menyayat hati bagi sebagian orang yang kehilangan anggota keluarganya. Karena virus ini. Seperti Zahra yang sedang termenung menatap langit malam yang berhiaskan bintang.

Ramadhan kali ini terlihat sangat berbeda, jika pada tahun-tahun sebelumnya ia akan sangat bersemangat menyambut hari raya. Kali ini dia hanya bisa menangis. Merindukan kedua orang tuanya yang tidak bisa lagi bersamanya saat ini.
Kedua orang tuanya adalah dokter spesialis. Karena pandemi yang terus melanda Indonesia. Ia harus berpisah berkilo-kilometer dari orang tuanya yang ditugaskan di rumah sakit kota Jakarta. Sepanjang Ramadhan, Zahra hanya bisa mengobrol lewat video call.

“Kak, kenapa ibu dan ayah meninggalkan Zahra?” tanyanya pada kakak laki-lakinya Reza.
“Zahra, Tuhan sayang ibu dan ayah. Makanya ayah dan ibu dipanggil duluan.” Jelas Reza tersedak. Sejujurnya dia juga sedih setelah mendengar kabar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Bahwa kedua orang tuanya meninggal setelah berjuang membantu pasien yang terkena virus corona.
“Dia bilang ayah ingin membawakan hadiah untuk Zahra.” Ucap Zahra sambil menangis lagi sambil memeluk adiknya. “Kenapa ayah dan ibu membohongimu?”
Reza hanya diam memeluk adiknya yang berusia tujuh tahun. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa lagi pada adiknya. Air matanya mengalir di pipinya.

Baca Juga :  Cerpen Kali di Pojok Kampung (Part 1)

“Sudah Zahra, jangan nangis lagi ya? Besok libur. Besok kita ke rumah nenek biar Zahra nggak sedih lagi.”
Zahra mengangguk pelan, meski bobot gadis itu masih mengikuti kata-kata kakaknya. Dia kembali ke kamar. Mencoba menghilangkan semua rasa lelah untuk tidur. Supaya besok bisa merayakan Hari Raya.

Hari kemenangan telah tiba. Zahra sudah siap dengan baju putih yang dibelikan ibunya. Kepalanya terbungkus syal berwarna pink. Membuat wajahnya terlihat lebih manis.
“Ayo, Reza! Nanti ibu akan menunggu Zahra.” Teriak gadis itu dari luar rumah. Di tangannya dia membawa kantong plastik berisi bunga.
“Iya Ra, sabar.” Jawab Reza sedikit tergesa-gesa sambil memakai sandalnya.

Hari ini Zahra, Reza, dan Nenek pergi ke makam orang tua mereka yang berada di pemakaman keluarga. Di belakang rumah nenek. Zahra menatap kosong ke dua batu nisan bertuliskan nama orang tuanya tepat di sebelah makam kakeknya.

“Ayah ibu. Semoga kamu bahagia di sana. Zahra berjanji akan menjadi anak yang baik.” Ucap Zahra sambil mengusap lembut nama itu di batu nisan.

Usai berdoa, keluarga kecil itu kembali ke rumah masing-masing untuk menyambut para tamu yang segera memenuhi rumah.

Cerpen oleh: Cindy Cantika Triana
Blog / Facebook: Achantika

Cerpen ini dimoderatori oleh Moderator N Cerpen pada tanggal 29 Maret 2022 dan dipublikasikan di website Cerpenmu.com


Cerpen Hari Raya Pandemi adalah cerpen karya Cindy Cantika TrianaAnda dapat mengunjungi halaman khusus penulis untuk membaca cerita pendek terbarunya.


“Apakah kamu menyukai cerita pendek ini? Silakan bagikan dengan teman-temanmu!”

Bagikan di Facebook
Google+


“Baca Juga Cerpen Lainnya!”



Baca Juga :  Cerpen Hantu Toilet Sekolah
Oleh: Aisha S

Nama saya Sasha. Setiap hari saya pergi ke sekolah di dalam mobil dengan pintu dan jendela tertutup rapat. Orang lain juga seperti saya. Sekarang jarang ada orang yang jalan kaki


Oleh: Dian Aulia Citra Kusuma

Otak saya masih bekerja normal, tapi saya pikir saya gila. Penglihatan dan pendengaran saya masih berfungsi dengan baik, hanya saja, saya berasumsi bahwa saya sudah lama menjadi


Oleh: Agung Gunawan

“Ah. 30 September,” kata Andi pada dirinya sendiri sambil melirik kalender tepat di sebelah ibunya, ini berarti sudah seminggu dia disana.


Oleh: Iwan Setiawan

Biasanya di musim hujan ini, dini hari kumpulan awan mendung menyelimuti seluruh desa dengan kegelapan. Namun pagi ini langit terlihat begitu biru cerah tanpa awan sedikitpun. Suara


Oleh: Yacinta Artha Prasanti

Desy melakukan homeschooling. Tidak pandai bersosialisasi dan penyakit asma yang dideritanya menyebabkan dia melakukan homeschooling. Jam menunjukkan pukul 12.00. Desy telah selesai belajar dengan Bu Tika. Hari





“Hai!, Apakah kamu suka membuat cerita pendek juga?”

“Kalau begitu… jangan lupa kirimkan cerita pendek kalian!, melalui halaman yang telah kami sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia telah datang untuk memeriahkan cerpenmu, lho, bagaimana denganmu?”


Tinggalkan komentar