Cerpen Diamnya Pendebat





Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Kategori: Cerpen Kehidupan

Lolos moderasi pada: 26 April 2022

“Bagaimana tidak mungkin? Bahwa corona ini adalah konspirasi. Ada pihak-pihak lain yang mencari keuntungan dibaliknya.” Sambil menyertuput kopinya di warung Mak Yanti, Pak Nardi mencoba mencari “perkara” dengan kawan pengunjung kopi yang lain.
“Bukankah itu masih pro kontra, Pak? Faktanya penambahan jumlah penderita dan kematian masih bertambah.” Pak Supri yang terpancing, ikut berbicara.

“Halah.. itu akal-akalan saja. Akal-akalan bagi mereka yang berakal kemudian mengakali rakyat kecil seperti kita. Dengar ya.. dengar! Cerita ini dari saudaraku, bisa dicek kebenarannya, seminggu kemarin saudaraku mertuanya mati, penyebabnya diabetes. Lalu, oleh pihak Rumah Sakit keluarga saudaraku didudukkan, ditawari, jika mau kematian mertuanya dianggap terkena korona lalu sepakat dikuburkan ala korona, maka akan diberikan kompensasi lima ratus ribu. Itu jelas! Fakta! Contoh nyata yang dekat dengan kita!”
Pak Supri semakin penasaran, “Apakah betul itu, Pak?”

Dengan sigap, Pak Nardi menjawab dengan suara lebih mantap, “Betul itu! Masak saya bohong? Kalau masih kurang, ini terjadi ponakan saya, si Arga itu! Dia menjadi petugas Pemilihan Kepala Daerah, harus dirapid. Waktu di rapid, eh.. dia terindikasi reaktif. Jadilah dia diisolasi empat belas hari. Belum lagi, keluarganya serumah diwajibkan rapid mandiri, per orang tiga ratus ribu. Nah… siapa yang diuntungkan? Liat saja, sebentar lagi petugas-petugas rumah sakit itu akan kaya, beli motor dan mobil baru. Sekarang saja, mobil dinas dan ambulannya baru. Kurang jelas apa lagi!”

Pak Supri terpengaruh, mengangguk tanda menyetujui. Pak Nardi, pensiuanan PNS memang dikenal memiliki pengetahuan dikalangan kampung. Sifatnya yang keras, memiliki passion gemar berpendapat, sering mengemukakan gagasan ketika rapat, terkenal dengan daya “debat”nya yang mumpuni. Sepertinya orang-orang kampung enggan, bukannya segan tapi tidak mau berurusan dengan Pak Nardi.

Ketika rapat di sekolahan, Pak Nardi turut hadir sebagai wali cucunya yang masih SMP.
Bapak Kepala Sekolah menjajak pendapat dari wali yang hadir, “Mohon maaf Bapak, Ibu, dan wali murid semua. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati kita, bahwa sekolah masih belum diperbolehkan masuk. Jadi, kiranya kita bersabar dengan keadaan ini..”

Tak ayal, Pak Nardi langung unjuk tangan mengemukakan pendapatnya,
“Maaf, Bapak Kepala. Saya rasa ini sudah kelewatan. Sudah tujuh bulan anak-anak tidak masuk. Ini namanya sudah pembodohan massal. Mall dibuka, tempat rekreasi dibuka, pasa dibuka, hanya ada dua yang masih sulit dibuka, tempat ibadah dan sekolah. Bukankah begitu Bapak-bapak? Ibu-ibu?”

Hadirin riuh tak mereda, berpolemik dengan masing-masing kasak-kusuk yang terbenam di kepala, saling adu argumen satu sama lain, suasana rapat pun semakin ricuh.

“Tenan Bapak dan Ibu.. tenang!” Kepala Sekolah mencoba menenangkan.
“Tenang, maksud Bapak Nardi bagaimana? Hubungan masuk tidaknya sekolah ini?”

“Hubungannya adalah dengan pendidikan kita, Pak. Anak-anak semakin liar kalau tidak sekolah. Belajar lewat Hp tidak maksimal. Belum lagi kuota yang kami habiskan, sulitnya sinyal, pemadaman listrik, belum lagi banyak kasus dari kita yang orangtua ekonominya lemah. Ditambah lagi, kami para wali murid masih punya kesibukan sendiri. Anak kami yang bersekolah, kami yang sibuk berpikir. Sekolah tidak masuk, iuran perbulan tetap utuh. Bagaimana ini?!”, Pak Nardi semakin bersemangat mengemukakan pendapatnya.

Baca Juga :  Cerpen Merah Dingin dan Biru Hangat: Alpha

Bapak Kepala Sekolah tidak dapat menjawab dengan memuaskan, karena semua wali murid sudah terpengaruh oleh omongan Pak Nardi. Akhirnya, rapat ditunda dengan agenda rapat berikutnya menghadirkan Dinas Unit Pendidikan Tingkat Daerah.

Pak Nardi semakin tenar, ada yang mengagumi ada yang mencibir, semakin digunjing maka semakin naiklah popularitas dan keterkenalan Pak Nardi sedesa.

Pun ketika rapat di kantor kelurahan, mengenai bantuan covid dari pemerintah yang tidak merata. Ramai-ramai perwakilan warga menggeruduk desa untuk menanyakan, tentu saja yang ditunjuk adalah Pak Nardi sebagai koordinatornya.

“Tenang, bapak dan ibu.. tenang. Begini saya akan menjelaskan mekanisme bantuannya”, Pak Lurah mencoba menenangkan warga yang semakin bergelora emosinya.

“Baiklah.. kami akan mendengarkan. Bapak dan ibu, harap tenang. Mari kita dengarkan penjelasan dari Pak Lurah, bila nanti ada yang janggal, saya sebagai coordinator akan bertanya balik”, ucapan Pak Nardi langsung didengar, para wargapun diam bersiap mendengarkan penjelasan Pak Lurah.

“Begini, mekanismenya adalah dari pihak desa mendata warga yang sekiranya membutuhkan. Nama, No Kartu Keluarga, Nomor Induk Kependudukan, dan selanjutnya kita serahkan ke perwakilan dari Kementerian Sosial di tingkat kabupaten. Lalu soal …”

Penjelasan Pak Lurah terhenti, karena Pak Nardi keburu mengangkat tangannya.
“Maaf.. Pak Lurah! Kami merasa tidak terwakili oleh data sepihak tersebut. Kasusnya banyak warga yang tidak menerima bantuan. Di lapangan, ternyata yang dapat bantuan adalah rata-rata saudara atau dulur dekat dari Pak RT, Pak RW, juga pendukung-pendukung Pak Lurah dulu..”

Sanggahan Pak Nardi seperti menyulut bensin dalam daun kering yang lalu terpercik sedikit bara, kemudian datang angin yang sepoi menghembus, terbakar dengan hebat!

Pak Lurah kewalahan, semua penjelasan tidak dapat dijelaskan lagi dengan gamblang. Semua warga sudah terlanjur memercayai omongan Pak Nardi, terlepas benar atau tidak. Yang jelas, api itu tersulut dan semakin membara karena berbeda sudut yang ikut serta membuatnya berkobar.

Semua yang pernah berhadapan dengan Pak Nardi, si tukang debat kalah telak dihadapannya. Entah ilmu apa yang dipakai, argumennya selalu saja bisa memprovokasi massa untuk ikut memercayainya. Ilmu manthi?, Pak Nardi tidak pernah mondok. Ilmu komunikasi? Pak Nardi juga tidak pernah kuliah, jadi mustahil memelajarinya. Debat soal apapun diladeni, agama, sosial, budaya, apalagi politik! Entah, semacam ilmu laduni, Pak Nardi dengan lancarnya seperti tiba-tiba mendapatkan transfer ilmu gaib, kemudian dengan lancar, keluarlah argumennya.

Pak Supri sebagai salah satu pengagumnya pernah menanyakan perihal kepiawaian Pak Nardi dalam berdebat, “Pak Nardi, ko jenengan itu pinter banget to berdebat? Rahasiane opo to?”
Pak Nardi mengulas senyum, seraya menjelaskan, “Ada dua rahasisa. jurus mengkudu dan harus pintar silat”
Pak Supri masih bingung, “Mengkudu? Buah itu, Pak?”
“Haha.. bukan. Meng-ku-du. Kudu ngeyel, kudu ngengkel, kudu pinter dua-duanya meski ilmu cetek.”
“La.. kalau pinter silat, Pak? Apa hubungannya dengan debat?”
“Pintar silat lidah, maksudnya. Pintar nge-les, pintar mbolak-mbalikkan kata dari lawan.”
“Ehmm.. ya.. ya.. saya akan belajar debat dari Pak Nardi”, yang diamini oleh Pak Nardi dengan jumawanya.

Baca Juga :  Cerpen Mercusuar

Suatu ketika, ustadz Arifin kepala TPQ ingin mengadakan pertemuan dengan wali santri, yang temanya membahas tentang nasib TPQ, ustadz-ustadzahnya, dan pelajarannya. Karena, santer terdengar iurang TPQ yang rencananya naik diprotes oleh beberapa wali santri. Tak terkecuali, Pak Nardi hadir, sebagai undangan dari perwakilan tokoh masyarakat dalam rapat TPQ tersebut.

“Baiklah.. untuk membuka pertemuan ini. Bahwasannya ustadz pengajar di sini tidak digaji. Iuran santri anak-anak yang selama ini dibayarkan, untuk sekedar untuk membeli keperluan, seperti kitab-kitab kecil, juzamma, iqra’, kapur tulis. Karena yang saya dengar, ada keluhan dari wali santri tentang iuran tersebut. Baru, kalau ada sisa ataupun donator, meski tidak seberapa, kami berikan kepada pengajar TPQ. Kiranya ada usulan?”

Wali santri yang merasa keberatan dengan naiknya iuran TPQ, Pak Firman memberikan keluhannya, “Maaf ustadz.. Saya keberatan dengan iuran ini. Kami sebagai orangtua harus membayar sekolahan, kebutuhan rumah juga terus meningkat, listrik, BPJS, yang jelas mencekik kami. Bukankah TPQ ini tempat mengajar agama, jadi sepantasnya memang pengajar-pengajar TPQ tidak dibayar, karena sudah dapat pahala dari Allah?”

Segera, Pak Nardi demi mendengar hal tersebut langsung menanggapi, “Ilmu sekolah hanya untuk dunia. Ilmu TPQ untuk akhirat. Jadi berharga mana? Ko lebih mementingkan yang hanya untuk dunia saja..”
Semua hadirin terperangah, diam hendak menerka apa yang akan diucapkan Pak Nardi.

“Beras itu adanya di toko, bukan di akhirat. Ustadz-ustadzahnya juga perlu makan, keluarganya juga! Dzalim kita kalau tidak mau mengharagainya”

Pak Firman tak kalah sengit menanggapi Pak Nardi,
“Ilmu agama jangan disamakan dengan ilmu dunia, Pak. Mengajar memang dasarnya harus ikhlas, mereka menolong agama Allah, insyaAllah Allah nanti juga akan menolongnya. Kalau iuran kita bayarkan, mereka hanya akan mendapat balasan di dunia, jelas berkurang di akhirt kelak!”

Ustadz Arifin yang coba ingin melerai keduanya, belum sempat meredakan, Pak Nardi sudah melayani argumen Pak Firman.
“Agama memang mengajarkan untuk ikhlas. Tapi dalam agama juga mengajarkan tentang profesionalitas. Cara bekerja untuk ibadah, muamalah, mengupah, dan lainnya. Jangan jadikan ikhlas sebagai prioritas dalil. Pelajari juga hubungan kemanusiaannya. Memanusiakan manusia!”

Adu mulut, berbantah tak ayal membuat ramai pertemuan itu.
Di akhir, Ustadz Arifin mengakhiri dengan sedikit berceramah,
“Alhamdulillah, debat saling beda pendapat telah terjadi. Imam-imam dan ulama-ulama kita juga dulu melakukannya. Kisah Nabi Muhammad SAW dengan Utbah bin Rabi’ah, Abu Bakar dengan Umar bin Khattab, Imam Abu Hanifah, bahkan lahirnya Pancasila diwarnai perdebatan. Namun, perdebatan ini, perbedaan ini, mari jadikan rahmat, kedewasaan, titik temu kemufakatan; kesepakatan dan mencari pemecahan. Semoga setelah pertemuan ini, perbedaan tadi tidak menjadikan permusuhan, bahkan semakin mendekatkan..”

Begitulah, sesampai di rumah Pak Nardi bercerita semua pengalaman debatnya kepada istrinya. Bahwa, pengalaman debatnya, selalu kemenangan ditangannya. Istrinya tersenyum getir, kemudian berkata,
“Apakah debatnya Pak e tadi membawa perubahan?”
Pak Nardi merasa aneh, “Lo..a da. Debatku pasti membawa perubahan. Peraturan, kebijakan, keputusan, bisa berubah, hanya karena debat atau pendapatku, Bune..”
“Maksudku, perubahan untuk kita. Untuk istrimu, keluargamu. Untuk keuangan kita. Adakah perubahan atau keuntungan yang didapat dari kemenangan debatmu”
Pak Nardi terkesiap, tidak menyangka istrinya akan bilang begitu.

Baca Juga :  Cerpen High School Music

“Pakne.. boleh saja berdebat. Kalau ada hadiahnya, kalau ada bayarannya, seperti di tipi-tipi itu, baru ada bayarannya. Berpendapat boleh, tapi ada pendapatan apa tidak? Berdebat, monggo.. silakan.. sah-sah saja, ada tenaga, energi, pikiran, yang dikeluarkan. La, sampeyan? Sudah ngoyo, ngotot, pakai otot, kalau perlu sampai melotot. Apa untungnya? Ha! Apa..!! Kita makan nasi, bukan popularitas. Kita butuh duit, bukan hanya piagam kekaguman. Kita butuh mie, telor, sabun, minyak goreng, bisa itu dihasilkan dari debatmu? dari rasa kagum para pemujamu? Yang ada Yu Sri, istri Pak Firman itu, tidak lagi mau menghutangiku belanja ditokonya. Sekali lagi, aku tanya Pakne. Apa untungnya kemenangan debat yang kamu banggakan? Apa! Haa!! Apa!!”

Pak Nardi terdiam. Diam yang sebenarnya, diam, dalam sebenarnya “diam”. Sungguh-sungguh terdiam, “diam” yang sesungguhnya. Hanya diam.

Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Blog / Facebook: Anang Zunaidi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 26 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Diamnya Pendebat merupakan cerita pendek karangan Anang Zunaidi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Irfan Maulana

Siang itu terik matahari yang menyengat mulai menyentuh kulit kepala sang bocah bernama Andini, belum lagi sang kakak yang seharian berkeliling mendorong gerobak mengorek-ngorek sampah dan berharap menemukan barang




Oleh: Yoga P. Wijaya

“Untuk dunia engkau mungkin hanya seseorang. Tapi bagi seseorang engkau bisa saja dunianya.” Dr. Seuss Anda bertanya mengenai sahabat terbaik? Ya aku saat ini memiliki banyak sahabat. Bahkan wanita




Oleh: Tutut Setyorinie

Gadis berambut panjang itu masih dalam tatapan kosong. Tangan kanannya terangkat separuh, tapi tak kunjung sampai pada kanvas putih yang hanya berjarak sekitar satu jengkal dari tempatnya. Satu kali,




Oleh: Rhema Yuniar

Aku melihat bapak dari kejauhan. Duduk di kursi kayu depan rumah kami yang lapuk. Beliau tertunduk. Memperlihatkan rambut yang telah tertutup uban. Entah apa yang dipikirkannya. Memikirkan apa yang




Oleh: M Hanif Rosadi

Nisa seorang gadis yang berumur 7 tahun yang menggantikan peran seorang Ibu dalam keluarganya. Nisa tinggal dengan Supri Ayahnya. Mereka tinggal di daerah Malang. Di desa ini, sektor pertanian





“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan komentar